Agen Poker Terpercaya Agen Bola Terpercaya Japsex - Japanese Sex Cara Daftar Sbobet
   
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Dewasa Jatuh Di Pelukan Sopir

Discussion in 'Cerita Panas' started by semlidut, Dec 15, 2015.

  1. semlidut

    semlidut Calon Anak Lusuh

    Joined:
    Dec 15, 2015
    Posting:
    19
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    [​IMG]

    Cerita Dewasa Jatuh Di Pelukan Sopir – Jujur saja, sebetulnya Giyanto, 30 tahun, tak pernah rela istrinya menjadi penyanyi dangdut. Tapi karena cinta itu harus mau berkorban, lelaki dari Sukoharjo (Jateng) ini terpaksa melepaskannya. Padahal, apa yang dikhawatirkan selama ini akhirnya terjadi juga. Di kala di rumah dia kedinginan dibelit sepi, di sebuah kamar lain Winda, 26 tahun, istrinya malah asyik ”dangdutan” di ranjang dengan sopir angkot. Bagaimana hati Giyanto tak hancur berkeping-keping?

    Istri yang baik adalah yang mau memahami sikap suami. Tapi suami yang baik juga adalah yang bisa berkorban demi istri. Di sinilah Giyanto sungguh merasa di persimpangan jalan. Di satu sisi, pekerjaan sambilan istrinya sebagai penyanyi dangdut sangat membantu mengasapi dapur. Tapi di sisi lain Giyanto tak pernah rela bininya megal-megol di panggung lalu penonton main colek pantat bahkan menyenggol payudara Winda. “Ya nasibmulah Bleh, mengorbankan susu biar bisa beli susu,” kata hati nurani.

    Resiko itulah kini yang harus ditelan Giyanto. Habis bagaimana lagi, penghasilannya sebagai karyawan perusahaan swasta sangat kecil, tidak pernah cukup untuk hidup sebulan. Sedangkan istrinya, hanya dengan goyang dangdut barang 2-3 jam di panggung, sudah bisa membawa pulang Rp 1 juta sekali pentas. Akhirnya ya…., untuk makan sehari-hari, buat beli susu anaknya yang baru usia balita, sangat lebih mengandalkan goyang pantat Winda di pentas dangdut.

    Akan tetapi, untuk ini semua Giyanto harus mengorbankan segenap tenaga dan perasaannya. Bagaimana tidak? Dia harus mengantar jemput istrinya ke arena pentas. Lalu ketika Winda dielu-elukan penggemar yang ikut naik ke panggung, kemudian mereka ada yang main towel pantat istri bahkan nyenggal-nyenggol payudaranya, Giyanto harus meredam panasnya hati dalam dada. Paling sial lagi, setiba di rumah dan dia “nagih” haknya selaku suami, Winda suka beralasan. “Besok aja ya mas, aku capek dan ngantuk,” kata sang istri tanpa sempat berganti baju.

    Nah, voltase Giyanto yang tadinya telah mecapai 240 volt, mendadak tinggal 110 macam listrik PLN sebelum tahun 1975. Sebetulnya dia sangat ingin menuntaskan rindunya, melepas gairah malamnya bersama istri. Tapi bagaimana lagi, Winda malah asyik dibuai mimpi. Jika begini, apalah artinya sebuah rumahtangga? Ketika suami butuh, istri malah acuh. Tapi giliran istri mau pentas dangdut, Giyanto harus siap antar jemput. Mestikah cinta harus berkorban dan tekor melulu?

    Sumber
     

Share This Page