Agen Togel Online Indonesia Agen Poker BandarQ Sakong Online Agen Online Betting
Online Poker Terpercaya Live Casino Terpercaya Agen Casino Terpercaya Agen Betting Online Terpercaya
Japsex - Japanese Sex
Kalau tidak bisa membuka alamat lusuh.com, link alternatif bisa gunakan http://tinyurl.com/iplusuh. BOOKMARK link ini jangan IPnya
     
   
Kalau tidak bisa membuka alamat lusuh.com, link alternatif bisa gunakan http://tinyurl.com/iplusuh. BOOKMARK link ini jangan IPnya
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Dewasa - Ngentot Dengan Pevita Si ABG Yang Menggoda

Discussion in 'Cerita Panas' started by smokenjoyqq, Nov 12, 2017 at 7:13 PM.

  1. smokenjoyqq

    smokenjoyqq Calon Anak Lusuh

    Joined:
    Sep 14, 2017
    Posting:
    43
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    6
    [​IMG]
    Cerita Dewasa – Ngentot Dengan Pevita Si ABG Yang Menggoda
    Cerita Dewasa – Kali ini adalah pengalaman sex aku dengan ABG yang masih SMU bernama Pevita. Setelah aku mengirimkan cerita aku tersebut, aku mendapat email dari Pevita yang katanya tertarik dengan pengalaman aku dan kebetulan dia sedang di Lombok dalam rangka liburan bersama keluarganya.


    Kami janjian lewat email bertemu pada bulan Oktober di sebuah rental internet di Mataram. Tentu saja pembaca, aku yang menentukan lokasinya di rental internet tersebut, karena hari itu aku masih harus membalas beberapa email yang ingin berkenalan denganku dan mencari tahu tentang pariwisata di Lombok.

    Pada hari Kamis, aku sudah stand by di rental tersebut, berdebar-debar juga rasanya aku menunggu Pevita, seperti apa rupanya ya.

    Baca Juga : Kujadikan Wanita Kampung Ini Sebagai Pemuas Nafsuku


    “Selamat pagi, Om namanya Dadang khan?”

    Baca Juga : Kujadikan Wanita Kampung Ini Sebagai Pemuas Nafsuku

    “Ya, betul.. Ini Pevita ya!” tanya aku kembali padanya.

    Di hadapan aku sekarang adalah seorang ABG keturunan tionghoa yang cantik. Aku perkirakan umurnya baru 16 tahun, tinggi 160 cm, berat 47 kg dan berkulit putih mulus khas cina dengan rambut lurus sebahu, memakai baju hem ketat warna krem, celana jins hitam tiga perempat yang pas. Duduk di samping aku tampak mengintip CDnya yang berwarna putih. K0ntol aku langsung tegak bagaikan Monas melihat cewek cantik ini.

    “Gimana khabarnya?” tanyaku membuka percakapan sambil mempersilakannya duduk.

    “Baik Om, senang rasanya liburan ke Lombok”

    “Oh ya? Udah kemana aja Pevita ?”

    “Ke pantai Senggigi, terus Suranadi dan tempat gerabah itu”

    “Terus Pevita sekarang sama siapa?”

    “Sama Papa, Mama dan sepupu, Pevita tinggal di Senggigi Beach Hotel”

    “Wah, asyik dong..”

    “So pasti, tapi lebih asyik kalo diantar sama tour guide seperti Om”

    “Itu sich gampang Ta, yang penting ada komisinya lho” canda aku.

    “Tenang Om, dijamin nggak nyesel dech nganterin Pevita”

    Pevita orangnya supel dengan senyumnya yang manis mirip artis mandarin dan aroma tubuhnya yang sangat wangi. ‘Adik’ aku sudah nggak bisa diam nich.

    “Ceritanya Om Dadang tuch asli khan?”

    “Tentu saja asli lho, dari pengalaman pribadi”

    “Enak dong”

    “Enak apanya ta ?” pancing aku mulai memepetkan tempat duduk.

    Ini baru kesempatan namanya. Asik khan pembaca, bisa berduaan sama abg yang tentu saja masih seger-segernya..

    “Gituannya lho..” jawabnya tersipu malu.

    “Emangnya Pevita pernah gituan sama pacar?”

    “Ya.. Hampir pernah”

    “Hampir pernah gimana, nggak usah malu dech, ceritain dong”

    “Siapa tahu Om bisa bantu” ujarku sambil tangan kiri aku merangkul pundaknya.

    Wah, Pevita tampaknya nggak marah nich aku pegang pundaknya, berarti ada lampu hijau dong.

    “Janji ya Om, nggak bilang siapa-siapa”

    “Janji dech” aku menunjukkan tanda victory padanya.

    “Gini Om, Tony pacar aku itu kalo udah nafsu cepat keluarnya, padahal Pevita belum apa-apa”

    “Maksudnya..” tanyaku pura-pura blo’on padahal tahu maksudnya.

    “Iya, pas k0ntolnya Tony nempel di anunya Pevita, udah keluar duluan”

    “Oh gitu, itu istilah kedokterannya ejakulasi dini”

    “Terus ngatasinya gimana dong Om”

    “Ya, Pevita harus bisa foreplay dulu, maksudnya pemanasan gitu”

    “Ya udah Om, tapi Tony maunya terburu-buru en lagian mainnya kasar sich”

    “Pevita mau Om bantuin?” tanya aku yang sudah gak lagi melihat isi layar monitor sejak tadi.

    “Maksud Om..?”

    “Ya.. Gimana caranya foreplay”

    “Hus.. Om ini ngaco, Pevita khan pacarnya orang”

    “Bukannya ngaco, Pevita ya tetap pacarnya Tony, Om khan cuma memberikan petunjuk” jawab aku sungguh-sungguh membujuknya agar mau foreplay, habis potongan tubuhnya itu, alamak geboy abis, mungkin rajin fitnes ya atau aerobic.

    “Tapi.. Ada orang lho di sini Om, Pevita khan malu”

    “Nggak ada orang di sini kok, sini Om pangku” rayuku sambil menarik pinggangnya untuk duduk di pangkuan aku menghadap monitor komputer.

    “Om.. Jangan..” celetuknya ragu dan canggung.

    “Udah.. Atasnya doang kok, gimana?” tanya aku sambil membuka dua kancing atas hemnya hingga kelihatan BH merahnya, tangan kanan aku langsung masuk meremas payudaranya.

    “Ja.. Ngan.. Om.. Geli..”

    “Gimana rasanya ta..”

    “En.. Ak.. Sst.. Mmh”

    Pevita kelihatannya sudah agak terangsang dengan permainan tangan aku, ditambah lagi ciuman aku yang mendarat secara tiba-tiba pada lehernya. Tangan kiri aku juga mulai aktif meremas payudaranya yang sebelah. Ciuman pada lehernya aku ubah jadi menjilat, jadi kedua tangan meremas dan kadang-kadang memelintir kedua putingnya itu yang makin lama makin mengeras.

    “Mmh.. Mmh..” gumam Pevita. Beberapa menit lalu..

    “Udah.. Om.. Sst.. Udah..” tahan Pevita sambil melepaskan aku dan merapikan bajunya.

    “Ada apa ta, contoh foreplay belum abis lho” goda aku tersenyum.

    “Mmh.. Iya sich Om, cuman nggak leluasa di sini”

    “Maunya Pevita dimana?”

    “Tempat yang sepi orangnya gitu”

    Aku lihat tempat rental internet itu sudah mulai ramai kedatangan pengunjung, mungkin Pevita agak terganggu juga konsentrasinya.

    “Gimana kalo di hotel aja Pevita, di sana lebih tenang” usulku.

    “Iya dech.. Tapi jangan di Senggigi ya Om”, jawabnya sambil tangannya mengandeng aku mesra.

    “Oke, nanti OM cariin yang agak jauh dari Senggigi”

    Dan kami pun check in di salah satu hotel yang agak jauh dari Senggigi, karena aku tahu Pevita gak mau ketahuan keluarganya, katanya dia bilang sama keluarganya mau ke rental internet selama 3 jam. Karena itu kami pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

    “Wah, di sini baru tenang nich” kata Pevita sambil memperhatikan hotel yang lumayan tenang karena tempatnya agak jauh dari Senggigi dan kota.

    “Nah, sekarang gimana? Mau nerusin caranya foreplay?”

    “Mmh.. Gimana ya” Pevita agak ragu kelihatannya.

    Wah, anak ini harus dirangsang lagi supaya mau foreplay, soalnya si ‘buyung’ sudah tegak seperti pentungan pak satpam. Lalu aku membuka kaos atas aku dan celana panjang jins hingga tinggal CD, sengaja aku membuka baju menghadap ke Pevita.

    “Wow.. Apaan tuch Om, kok kembung” kata Pevita sambil menunjuk ke k0ntol aku.

    “Pevita mau lihat punya Om ya” Kutanggalkan semua CD aku hingga aku bugil dan kelihatan k0ntol yang tegak itu.

    “Wow.. K0ntol Om bengkok dikit ya..” terheran-heran Pevita melihat bentuk k0ntol aku.

    “Ini baru asli lho ta, tanpa pembesaran” ujarku sambil mendekatinya.

    Tangan aku aktif membuka hem kremnya dan celana jins hitam tiga perempatnya. Sekarang tampak jelas BH merahnya dan CD putihnya yang cantik, pemandangan yang indah. Aku gendong Pevita dan menaruhnya dengan lembut di sofa itu, lalu aku mencium dan menjilat bibirnya serta tangan aku meremas payudara dan mencopot pengait BH-nya.

    “Om.. isep.. sst.. susu.. nya.. Pevita..” rengeknya meminta aku menghentikan ciuman dan beralih ke payudaranya, ciuman dan hisapan aku giatkan, lalu puting itu aku gigit perlahan.

    “Terr.. us.. Om.. sst.. sst..” rintihnya sambil memindahkan kepala aku pada payudaranya.

    Tangan kiriku mengusap payudara sebelah kiri dan tangan kanan aku masuk dalam CDnya dan mengusap-usap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus, lalu aku masukkan jari keluar-masuk dengan lancar.

    “Ouh.. Mmh.. Enak.. Om.. Nah.. Gitu..” Aku turun lagi mencium perutnya yang putih bersih, turun lagi mencium CDnya yang mulai basah.

    “Buka.. Aja.. Om.. Cepet.. Sst” celotehnya yang sudah bernafsu sekali sambil membuka CDnya. Sekarang terlihat jelas sekali vaginanya yang masih kencang dan aku jilat dengan pelan dan semakin ke dalam lidah aku menari-nari.

    “Sst.. Terr.. Us.. Om.. Mmh..” rintihnya tak karuan sambil menjepit kepala aku.

    Beberapa menit aku permainkan vaginanya dan paha bagian dalam Pevita yang sudah sangat basah sekali.

    “Om.. Mmhmm.. Ganti.. Om.. Sstss”

    “Gantian gimana Ta..” goda aku sambil telentang.

    “Gantian Pevita isep k0ntolnya Om, tapi jangan keluar dulu ya”

    “Beres, nanti Om pakai kondom kok”

    “Mmh..” Pevita gak menjawab, soalnya sudah mulai menghisap k0ntol aku, pertama-tama cuma masuk setengah tapi lama-kelamaan masuklah semua k0ntol aku.

    “Terr.. Us.. ta.. Jilat..” perintah aku sambil memegang kepalanya dan mendorong pelan supaya k0ntol aku masuk semua ke mulutnya.

    Beberapa menit kami melakukan oral sex, Pevita ternyata menikmati permainan itu.

    “U.. Dah.. ta.. Om.. Nggak tahan.. Nich”

    “Iya Om, Pevita juga pengin ngerasain senggama gaya kuda ama k0ntolnya Om yang bengkok itu hi.. hi..” celotehnya tertawa sambil mengambil posisi menungging.

    “Sabar ya ta, Om pasang kondom dulu”

    Lalu setelah aku pasang kondom, aku masukkan ke vaginanya, tenyata meleset. Agen BandarQ


    “Aduh.. Om.. Pelan.. Dong” rintihnya kesakitan. Memang vagina Pevita masih sempit kelihatannya dan posisi tersebut agak susah sich.

    “ta tolong bantuin pegangin k0ntol Om”

    “Sini Pevita bantuin masukin tapi pelan ya”

    Pevita lalu memegang k0ntol aku dan mengarahkan ke vaginanya dan aku dorong pelan, pelan tapi pasti dan bless.. masuk seluruhnya dengan dorongan aku yang terakhir agak keras.

    “Aduh Om sakit”

    “Nggak apa-apa kok ta, udah masuk kok”

    “Sst.. Om.. Gini rasanya ya.. Sst..”

    “Gi.. Mana.. ta..”

    “E.. Nak.. Sst.. Agak cepetan Om.. Sst”

    “Nahh.. Sst.. Gitu..”

    Genjotan demi genjotan aku giatkan sambil tangan kiri memegang perutnya dan tangan kanan memegang payudaranya. Plok.. Plok.. Plok.. Demikian kira-kira bunyinya. Kira-kira beberapa menit aku ngentot dengan Pevita dengan posisi doggy style. Dan semakin lama semakin cepat.

    “Ce.. Pat.. Sst.. Sst.. Om.. Aah.. Pevita mau keluar nich” rintihnya tertahan.

    “Sa.. ma.. an.. Ta.. keluarnya.. sst.. yess..” jawab aku sambil mempercepat sodokan k0ntol aku.

    “Sst.. Ta.. Da.. Sst.. Kel.. Uar.. Om.. Argh..” jerit Pevita.

    Tiba-tiba tubuh Pevita mengejang dan aku pun juga, akhirnya crot.. crot.. crot.. Keluar cairan putih dalam kondom aku, bersamaan dengan muncratnya cairan di vagina Pevita. Tubuh kami pun lemas menikmati sensasi yang luar biasa itu.

    “Trim’s ya Ta, rasanya gimana?” tanya aku sambil mengecup pipinya.

    “Enak sekali Om, baru kali ini Pevita puas”

    “Gimana ML ama Om Dadang ta?” tanya aku sambil mencium pipinya.

    “Puas rasanya ke Lombok, dapat plusnya lagi” katanya sambil ke kamar mandi dan beberapa menit sehabis mandi lalu Pevita sudah merapikan bajunya.

    “Sampe besok ya, sehari lagi Pevita pulang lho”

    “Okey, kapan ketemu lagi?”

    “Terserah Om dech, tapi jangan terlalu malam ya, nanti Papa curiga lho”

    “Gimana kalo jam 19.20 Om jemput?”

    “Okey dech, seperti biasa ya” Maksudnya seperti biasa adalah, Pevita kujemput pakai mobil sewaan di Senggigi, tapi agak jauhan. Karena jika ketahuan bapaknya khan bisa berabe.

    Pukul 19.30 Pevita sudah berada dalam mobil bersama aku, dengan memakai rok jins span warna biru dipadu dengan kaos ketat warna putih selaras dengan warna kulitnya. Aduh mak, makin cantik aja nich ABG, pikirku.

    “Kita kemana Om?”

    “Bandara Selaparang”

    “Ngapain ke sana?” tanyanya heran.

    “Udah nggak usah banyak tanya, nanti juga tahu”

    “Pevita ama Papa cuma dikasih ijin satu jam lho Om”

    “Maka itu, Om mau kasih hadiah buat Pevita”

    “Wah, terima kasih Om” jawabnya sambil mencium pipi aku mesra. Aku pilih bandara itu agar bisa romantis dan bisa lebih pribadi, tahu khan pembaca maksud aku, he.. he.. he…

    Setelah sampai di bandara, aku parkir mobil di tempat yang agak sepi, kebetulan juga kacanya hitam pekat. Aku ajak Pevita pindah ke tempat duduk belakang mobil Kijang itu agar lebih leluasa kalau mepet-mepetan.

    “Mana hadiahnya Om?” tanya Pevita gak sabaran, karena gak tahu apa hadiahnya.

    “Om cuma mau kasih hadiah seperti kemaren” selidik aku menunggu tanggapannya.

    “Maksud Om?”

    “Iya, seperti yang Om ajarkan kemarin, nah itu hadiahnya, tapi Pevita mau nggak?”

    “Idih, si Om maunya..” jawab Pevita sambil tersipu.

    Bagi aku itu sudah cukup merupakan tanda setuju dari Pevita hingga tanpa menunggu jawaban dari Pevita, aku langsung mencium bibirnya dan tangan aku sudah mendarat pada pahanya. Aku elus-elus pahanya yang putih dan masih terbalut oleh jins biru yang sangat seksi hingga memperlihatkan lekuk-lekuk bodinya. Pevita juga kelihatannya ingin menghabiskan malam terakhirnya bersama aku dengan tergesa-gesa membuka celana aku sampai separuh dan melahap k0ntol aku yang sudah kencang dari tadi.

    “Teru.. Ss.. ta..” perintah aku sambil membuka kaos dan BH putihnya yang berenda itu.

    “Mmh.. Mmbmnb..” celotehnya gak jelas karena mulutnya penuh dengan k0ntol aku yang maju mundur dihisapnya dengan irama yang cepat.

    “Ud.. Ahh.. ta.. Om.. Mau.. Kel.. Uar.. Arghh..”

    Tiba-tiba Pevita melepaskan kulumannya, dan berganti posisi dengan aku yang berjongkok dan Pevita yang duduk sambil membuka rok spannya. Pemandangan yang sangat indah pembaca, Pevita memakai CD kuning yang bergambar hati atau cinta.

    “Ayo Om, jangan diliatin aja”

    “Ya..” jawab aku sambil mencium vaginanya yang masih terbungkus CD kuningnya, jilatan demi jilatan membuatnya geli hingga pinggulnya ke kiri ke kanan tak beraturan.

    “Uda.. Hh.. Om.. Buka aja.. Sst.. mmh..” katanya menyuruh aku membuka CDnya.

    Dengan dibantu Pevita, aku membuka CD beserta sok spannya hingga ia tinggal mengenakan BH saja. Vaginanya yang ditumbuhi bulu halus itu mengeluarkan aroma harum khas wanita, beberapa saat aku cium dan jilat pada bagian dalam vaginanya.

    “Sst.. Arggh.. En.. Akk.. Om.. Nah gitu.. Sst”

    “Jil.. At.. Om.. Bagian yang itu.. Ya.. Sst..” pintanya pada aku yang membuatnya sangat terangsang.

    Sambil menjilat seluruh bagian vaginanya, tangan kanan aku masuk ke dalam BH-nya dan meremas payudaranya dengan lembut dan kadang-kadang memelintir putingnya yang sudah keras sekali.

    “Ayo.. Om.. Sst.. Pevita.. Nggak.. tahan.. Nih..” rintihnya memohon pada aku.

    Aku sudah mengerti maksudnya, Pevita sudah sangat terangsang sekali ingin melepaskan hasratnya dengan segera. Lalu aku berganti posisi dengan Pevita aku pangku berhadapan dengan aku sambil membuka penutup payudaranya itu. Maka kami berdua sudah bugil di dalam mobil itu, untung saja keadaan bandara waktu itu belum terlalu ramai karena kedatangan pesawat masih lama.

    “Pel.. Lan ya Om” kata Pevita sambil menggesek-gesekkan bibir vaginanya sebagai pemanasan dulu.

    “Gimana ta..?”

    “Udah Om, sekarang aja” ajak Pevita sambil memegang k0ntolku mengarahkannya pada lubang kemaluannya sambil aku juga menyodoknya pelan, lalu pada akhirnya bless.. masuklah semua k0ntol aku.

    “Arg.. Sst.. Mmh..” rintih Pevita karena masuknya k0ntol aku yang lalu maju mundur dengan lembut.

    K0ntol aku serasa diremas-remas dalam lubang kemaluan Pevita yang masih sangat kencang sekali, denyut-denyut yang menimbulkan rasa nikmat bagi aku dan tentunya pengalaman ini tak akan terlupakan.

    [​IMG]
     

Share This Page