Agen Poker Terpercaya Agen Bola Terpercaya Japsex - Japanese Sex Cara Daftar Sbobet
   
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Ngentot Memek Penjual Sayur Segar

Discussion in 'Cerita Panas' started by anyessss, Jan 9, 2016.

  1. anyessss

    anyessss Calon Anak Lusuh

    Joined:
    Jan 8, 2016
    Posting:
    14
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    [​IMG]

    Cerita Ngentot Memek Penjual Sayur Segar – Perkenalkan namaku Priambudi panggilan seahri hari Pri, aku mempunyai kakak yang bernama Mas Pras dia adalah kakak pertama tapi beda ibu, kami walaupun beda tapi akur dan saling menghormati, kakakku sudah berumur 29 tahun baru menikah kemarin.

    Karena kedua orang tuaku meninggal aku ikut dengan Mas Pras, dia mengontrak sebuah rumah hanya ada kamar tidur 1, ruang tamu dan ruang dapur, karena Mas Pras baru menikah kemarin aku merasa tidak enak serba canggung, tapi mau gimana lagi karena kondisi seperti ini.

    “Pri, kamu tidur di kursi tamu dulu, ya…? Atau di karpet juga bisa. Kamu tau kan, memang tidak ada tempat?” Mas Pras menyapaku dengan lembut.”Sama Mbak-mu harus nurut. Bantu dia kalu banyak pekerjaan” Aku hanya mengangguk.

    Aku tidak begitu akrab dengan Mas Pras, karena memang jarang bertemu. Aku di Jogja, Mas Pras kerja di Semarang. Nengok ibu (tiri) paling setengah tahun sekali. Sambil mengirim uang buat biaya sekolah aku. Kakak lalu berangkat kerja.

    Dia adalah sopir truk antar-propinsi. Saat itu aku putus sekolah. Di Jogja belum keluar, tapi di Semarang belum masuk ke sekolah baru. Sehari-hari di rumah sempit itu menemani kakak ipar yg baru seminggu ini kukenal. Rasanya aku tidak krasan tinggal di “neraka” ini. Tapi mau ke mana dan mau ikut siapa? Pagi itu aku sudah selesai menjemur pakaian yang dicuci Mbak Narsih.

    Kulihat dia lagi sibuk di dapur. “Mbak, saya disuruh bantu apa?” aku mencoba pedekate dengan Mbak Narsih. “Cah lanang, bisanya apaaa. Sana ambil air, cuci gelas, piring dan penuhi bak mandi.” Sakit telinga dan hatiku mendengar perintahnya yang kasar. Tanpa ba-bi-bu semua kulaksanakan.

    Karena tak ada lagi yang mesti dikerjakan lagi, iseng-iseng aku nyetel radio kecil di meja tamu (Kakak gak punya tivi) “E…malah dengerin radio…sana belanja ke warung” aku diberi daftar belanjaan. Untungnya aku sudah biasa membantu Ibu ketika beliau masih ada. Aku hidup bersama Ibu sejak kecil, karena ayah sudah lama meninggal.

    Sumber
     

Share This Page