Agen Poker Terpercaya Agen Bola Terpercaya Japsex - Japanese Sex Cara Daftar Sbobet
   
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Ngentot Telanjang Bulat

Discussion in 'Cerita Panas' started by cicekmen, Feb 5, 2016.

  1. cicekmen

    cicekmen Calon Anak Lusuh

    Joined:
    Feb 2, 2016
    Posting:
    35
    Likes Received:
    1
    Trophy Points:
    6
    [​IMG]

    Cerita Ngentot Telanjang Bulat – Kami duduk rapat-rapat, terguncang ke sana kemari oleh olengan bis. Aku menengok ke sebelahku. Janet mengerling ke arahku. Sesaat pandangan kami tumbuk. Matanya menyipit, senyuman halus tergurat di bibirnya. Tangannya menggapai. Jarinya terasa bergerak berkelana di pahaku. Tangannya tiba-tiba kupegang erat-erat. Terasa kebahagiaan yang luar biasa membahana dalam diriku.

    Janet adalah betinaku. Memeknya hanya untuk diriku. Dan kontolku adalah milik dia sepenuh-penuhnya. Setiap habis ngentot, setiap aku habis menumpahkan bijiku di antara bibir garbanya, kontolku mesti kutidurkan di bantalan telapak tangannya, kadang selagi masih berdenyut-denyut lemah menghabiskan tenaga ejakulasinya. Dan Janet selalu membelai kepala kontolku.

    “Kasihan, kasihan..” demikian ia bergumam sambil mengecupnya lembut, merasakan mani yang tersisa di kulitnya, menghirup baunya yang asin menyengat.

    Bis berpacu makin cepat ke arah selatan. Jalan semakin menciut, lama-kelamaan tidak lagi beraspal. Kerikil pun lama-lama semakin jarang, jalan menjadi lorong berdebu, dua lekukan dangkal yang memanjang sejajar di tengah padang rumput. Dan akhirnya.. Laut! Bentangan biru yang berkilat-kilat. Matahari telah condong ke barat menyulap permukaan air menjadi sejuta titik pancaran cahaya.

    Bis berhenti di bawah naungan nyiur di halaman sebuah losmen. Kami turun. Sinoman rambut Janet terangkat-angkat diterpa angin laut. Ombak berbisik di kejauhan, desisnya yang mesra menyapu wajah kami yang tergelimang keringat. Hari sudah sore. Sejak siang tadi kami mengukir perjalanan dari ujung utara ke ujung selatan pulau kecil ini. Sekarang kelelahan menguasai raga kami.

    Perlahan kami melangkah naik ke serambi. Di sebelah kanan ada sebuah meja bundar dengan beberapa kursi. Di sebelah kiri kantoran kecil, sebuah meja dengan buku tulis kumal di atasnya, sebuah lemari kaca, sebuah kursi tua yang serat rotannya putus-putus. Seorang ibu setengah baya, memakai daster dan sandal jepit, menyambut kedatangan kami dengan tawa lega. Dengan ramah ia menjabat tangan kami.

    Sumber
     

Share This Page