Agen Poker Terpercaya Agen Bola Terpercaya Japsex - Japanese Sex Cara Daftar Sbobet
   
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Seks Bu Ida, Penguji Idolaku

Discussion in 'Cerita Panas' started by kripyiiik, Jan 11, 2016.

  1. kripyiiik

    kripyiiik Calon Anak Lusuh

    Joined:
    Jan 11, 2016
    Posting:
    22
    Likes Received:
    2
    Trophy Points:
    1
    [​IMG]

    Cerita Seks Bu Ida, Penguji Idolaku – Mutasi pekerjaan bagi setiap orang memiliki arti yang beragam. Ada yang keberatan karena pisah keluarga, tapi ada yang enjoy saja atau bahkan bahagia karena promosi jabatan. Demikian halnya dengan saya (Fendi), yang harap-harap cemas ketika dimutasi ke lain daerah. Berharap karena promosi, tetapi cemas karena harus meninggalkan istriku yang baru kunikahi setahun yang lalu. Sementara dia sebagai pegawai pula yang tidak dengan mudah meninggalkan pekerjaan atau minta mutasi mengikuti suami.

    Hari itu merupakan hari pertama saya mutasi masuk tempat baru di kota propinsi yang jaraknya kira-kira 200 km dari tempat tinggalku semula. Pagi itu saya sudah siap di lobby kantor baru, sambil menunggu untuk melapor calon atasan saya yang belum datang. Para pegawai kebanyakan belum aku kenal, hanya beberapa teman yang kenal karena satu angkatan, ketika menjalani test rekrutmen dan pelatihan bersama, 3 tahun yang lalu. Hampir 1 jam saya duduk di lobby, lalu aku lihat seorang wanita yang tinggi kira-kira 165 cm, anggun, dengan pakaian uniform abu-abu tua dan kerudung warna putih dengan motif bunga warna biru tua gradasi dan cantik tentu saja.

    Saya agak kaget, karena aku cukup kenal perempuan itu; bu Ida (nama samaran), dia-lah yang menjadi salah satu pengujiku di kantor pusat, ketika saya masuk di instansi ini. Aku masih ingat betul, karena di samping cantik, diam-diam aku juga mengidolakannya, sebagai perempuan yang menarik. Kala itu saya baru berusia 24 tahun, masih calon pegawai lagi! Sementara usia dia kelihatannya sudah di atas 30an lebih, Teman-teman juga banyak yang bilang, sebagai penguji yang paling cantik.

    Ketika aku dipanggil masuk, langsung aku menghadap atasanku yang baru itu, ternyata bu Ida-lah bosku yang baru. Lalu aku memperkenalkan diri. Rupanya dia lupa, ketika aku menerangkan bahwa aku pernah diuji olehnya.

    “Siapa… ya, lupa aku?” katanya tanpa ekspresi, mungkin juga untuk menjaga wibawanya atau memang dia lupa.

    Maklum banyak calon pegawai seangkatanku.

    Posisiku dua tingkat di bawah bu Ida, namun aku membawahi beberapa pegawai, walaupun mereka lebih lama bekerja daripada aku, karena faktor ijasah formal dan establish manajemen. Sebagai bawahannya saya sering diperintah bu Ida untuk membuat laporan, analisis data dan tidak jarang pula aku ikut serta dalam rapat dinas. Lama kelamaan kami berdua menjadi berkesempatan untuk bertukar pikiran, tidak hanya masalah pekerjaan tetapi sampai masalah pribadi, konon suaminya ada di luar kota, tapi aku tidak berani menanyakannya lebih jauh. Di rumah ditemani oleh dua orang gadis, keponakannya. Aneh juga, saya sudah demikian akrab, tapi bertandang di rumahnya saja tidak boleh.

    Sumber
     

Share This Page