Agen Poker Terpercaya Agen Bola Terpercaya Japsex - Japanese Sex Cara Daftar Sbobet
   
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Seks Gairah Sesama Jenis

Discussion in 'Cerita Panas' started by depresss, Mar 10, 2016.

  1. depresss

    depresss Calon Anak Lusuh

    Joined:
    Mar 8, 2016
    Posting:
    28
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    [​IMG]

    Cerita Seks Gairah Sesama Jenis – Jumat malam, waktu yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang kantor. Bagi yang sudah berkeluarga, tentu ingin segera berakhir minggu dengan keluarganya, tapi bagi yang single sepertiku? Sudah lama tidak ada lagi yang ‘apel’ di rumah sejak pacarku (atau teman kencan?) pindah keluar kota beberapa minggu yang lalu. Sayang juga, padahal kami selalu saja melakukan hal-hal seru. Seperti biasa, aku yang paling terakhir meninggalkan ruang kantor.

    Semua teman berpamitan pulang dengan wajah berseri-seri, ada yang dijemput pacar, ada yang dijemput suami/istri dengan anak-anak, bahagia sekali tampaknya. Aku merasa konyol, karena dengan bentuk dan paras seperti aku, yang lumayan cantik (kata orang), dan kurus tinggi seperti yang diinginkan banyak wanita lain, sebenarnya mudah sekali untuk mendapatkan teman kencan. Tapi aku tidak tahu kenapa aku menolak banyak ajakan teman pria untuk kencan. Aku mulai merasa, apakah masa avonturir-ku telah berakhir? apakah masa pengembaraanku di dunia ‘bebas’ telah usai? Tapi beberapa saat setelah itu, aku sadar ternyata prediksiku itu salah.

    Aku terdiam lama di dalam mobil Katana hijauku di tempat parkir. Waktu masih menunjukkan pukul 6 sore, terlalu dini untuk balik ke apartemenku di gedung xxx (edited). Tapi kalau mau pergi jalan-jalan, juga terlalu sore. Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi rumah seorang kawan dekatku, Ira. Dia mantan kakak kelasku, usianya 28 tahun, lebih tua 3 tahun dariku. Hidup sendiri cukup lama karena tidak juga menemukan pasangan yang tepat, maklumlah, potongan dan gayanya terlalu tomboy. Bicaranya pun kasar ceplas-ceplos, meski sebenarnya dia seorang yang berhati emas.

    Tak lama kemudian, mobil Katana hijauku berhenti di depan rumah Ira. Rumah mungil yang berwarna ungu dan berbentuk asimetris di sana sini, khas rumah seorang arsitek. Kutekan bel pintu, dan muncullah temanku itu, masih mengenakan kaos overall longgar, dengan rambut acak-acakan yang poninya dijepit ke atas.

    “Sari! Tumben main ke sini pas weekend! Nggak ada yang ngapelin yah?”
    “Ah, tidak kok Mbak, emang lagi sendirian nih, sejak ditinggal Ditto.”
    “Lho, memangnya pasaran turun? Biasanya kan cepet banget nemu gantinya?”
    “Enak aja, aku cuman lagi kehilangan adventure touch-ku, Mbak!”
    “Hihihi, ah ayolah masuk! Tapi sorry ya, aku masih lagi ngerjain gambar.”

    Aku pun mengikutinya masuk ke rumahnya yang funky itu. Ruang tamunya berdinding oranye, dengan kursi tamu dari ban bekas yang dicat warna warni. Kertas-kertas gulungan berserak di sana-sini. Benar-benar seniman tulen, pikirku.

    Sumber
     

Share This Page