Agen Poker Terpercaya Agen Bola Terpercaya Japsex - Japanese Sex Cara Daftar Sbobet
   
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Seks Karyawanku Menggairahkan

Discussion in 'Cerita Panas' started by anyessss, Jan 9, 2016.

  1. anyessss

    anyessss Calon Anak Lusuh

    Joined:
    Jan 8, 2016
    Posting:
    14
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    [​IMG]

    Cerita Seks Karyawanku Menggairahkan – Aku adalah seorang pimpinan sebuah Biro Perjalanan Wisata yang terhitung masih baru di negara ini. Panggil saja aku Pram. Aku seorang laki-laki yang masih bujangan walau usiaku sudah 32 tahun.

    Pertama aku menjalankan perusahaan ini, aku merekrut beberapa karyawan yang layaknya perusahaan travel tentu banyak wanitanya. Salah satu karyawanku itu sebutlah namanya Esther, adalah tangan kananku dalam menjalankan roda perusahaan ini. Dia cukup berpengalaman di bidang marketing dan operasional. Orangnya cantik, putih, berusia sekitar 28 tahun. Pertama aku meng-interview dia kujabat tangannya,

    “Selamat siang, perkenalkan nama saya Pram, Pramono.”

    Dia pun menyebutkan namanya, “Esther..” dengan nada suaranya yang agak serak, yang bagiku terdengar seksi.

    “Boleh saya lihat CV anda?” tanyaku.
    “Silakan Pak,” sahutnya.

    Aku pun mulai bertanya seperti layaknya pimpinan perusahaan yang sedang meng-interview calon karyawannya.

    “Sepertinya anda cukup pengalaman di bidang travel, sudah berkeluarga ?” tanyaku penuh selidik.
    “Sudah Pak,” jawabnya singkat.

    Lalu ditambahkan, “Saya sudah berputra satu.”

    “Ooo.. Oke anda diterima, kapan anda mulai bergabung dengan kami?” tanyaku lagi.
    “Mungkin minggu depan, bagaimana Pak?” jawabnya, sambil memainkan matanya yang indah.
    “Hmm.. boleh, selamat ya..” kataku sambil menjabat tangannya.

    Begitulah, Esther sejak itu menjadi karyawanku, dimana sewaktu marketing aku selalu mengajak dia. Dia pun kelihatan senang kalau aku mengajaknya keluar.

    Dari seringnya kami keluar bersama entah kenapa dia sering memancing omongan kearah yang lebih pribadi. Sampai akhirnya pada suatu saat aku terkejut begitu mengetahui dia ternyata sudah bercerai dengan suaminya.

    “Hah?! pantas aku nggak pernah melihat suami kamu..” aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
    “Yah, beginilah kehidupan saya Pak, saya janda dengan anak satu, maafkan saya Pak, selama ini saya berbohong pada Bapak.” Esther menyahut dengan tetesan air mata di pipinya.

    Sumber
     

Share This Page