Agen Poker Terpercaya Agen Bola Terpercaya Japsex - Japanese Sex Cara Daftar Sbobet
   
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Seks Mas Boy

Discussion in 'Cerita Panas' started by mlorokkk, Mar 24, 2016.

  1. mlorokkk

    mlorokkk Pemula

    Joined:
    Mar 24, 2016
    Posting:
    4
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    [​IMG]

    Cerita Seks
    Mas Boy – Cerita ini benar adanya, hanya saja untuk menjaga privacy dengng model-model yang pernah menjadi ‘korban’ petualanganku, maka dengan menyesal namanya aku samarkan, kali ini aku akan mengisahkan petualanganku dengan model yang wajahnya mirip Yessy Gusman. Aku bertemu dengan model cantik yang memiliki nama Sukma ini ketika aku meliput pemilihan model di salah satu hotel bintang 5.

    Sebagai fotografer yang sudah dikenal di kalangan artis papan atas, membuatku selalu mendapat sambutan setiap aku muncul di berbagai event. Ini mungkin yang membuat model baru seperti Sukma, ikut ‘hanyut’ akan kehadiranku.

    “Hai, namaku Sukma. Kenalan dong dengan Mas!”, sapanya dengan senyum manisnya yang menggemaskan.
    “Oh., Boleh!”, jawabku kaget.
    “Mas, mau dong di foto untuk media Mas!”, serang Sukma.
    “Lho, kok tahu kalau aku fotografer “, kataku memancing.
    “Lho siapa yang nggak kenal dengan fotografer sekaliber Mas Boy! Di kalangan model sensual, nama Mas Boy kan sangat terkenal”, kata Sukma merayu.
    “OK! Aku jadi nggak enak hati nich, dipuji cewek secantik kamu. Kalau memang kamu kepingin tampil di mediaku, tahu dong syarat utamanya. Harus tampil sensual, kalau perlu tanpa busana he. he. he.. “, kataku dengan nada memancing.
    “Tapi dijamin jadi gadis sampul kan Kalau dijamin aku mau, yang penting yang miskin (maksudnya tanpa busana) tolong untuk Mas saja, jangan dimuat di media massa dan internet”, jawab Sukma.

    Setelah sepakat, akhirnya aku janjian pemotretan dengan Sukma di salah satu hotel di bilangan jalan Pramuka, Jakarta Timur. Pada hari Rabu yang telah disepakati, Sukma datang bersama tiga rekannya yang tidak kalah cantik. Namanya Maya dan Ayu (bukan nama sebenarnya). Pemotretan dimulai di kolam renang tentunya, sambil ngetes kebenaran omongan Sukma. Benar saja, Sukma langsung mengenakan busana renang yang Sukma dengan warna cerah. Membuat Sukma kelihatan semakin cantik saja.

    “Gimana Mas, okey nggak “, tanya Sukma sekeluar dari kamar ganti.
    “Badanmu benar-benar oke. Aku nggak sangka, cewek secantik kamu punya nyali sebesar kamu!”, pujiku.
    “Demi karier dan masa depanku, resiko apapun aku hadapi Mas!”, tantang model yang memiliki ukuran bra 36B ini.
    “Loh, kok nekad amat. Emang keluarga dan pacarmu mendukung “, aku mencoba mengorek lebih dlm.
    “Apapun yang aku tempuh, mereka mendukung. Karena mereka memang membutuhkan uluran tanganku. Sehingga mereka tidak bisa protes atas perbuatanku”, jawabnya dengan wajah menunduk. “Sukma, aku bisa bantu kamu. Tapi resikonya sangat berat, karena kamu mesti korban harga diri dan perasaan”, kataku.
    “Nggak apa-apa Mas, yang penting Mas bisa mengorbitkanku menjadi model dan pemain sinetron terkenal”, jawab Sukma sungguh-sungguh.
    “Oke, sekarang kita mulai sesi pemotretan untuk sampul mediaku dulu di kolam renang ini. Setelah itu, kita sesi pemotretan di room, gimana “, kataku.
    “Oke!”

    Lalu pemotretan berlangsung sampai pukul 05. 30 dan menghabiskan 5 rol film isi 36, dengan berbagai gaya yang sangat menantang. Matahari mulai menghilang dari peredarannya, pemotretan di kolam renang aku akhiri dan dilanjutkan di kamar.

    Setelah beristirahat dan makan malam, Sukma menawariku untuk sesi pemotretan lg.

    “Mas, foto lg yuk!”
    “Sip!”
    “Pakai baju apa nich “, tanya Sukma.
    “Ngapain pakai baju, tadi kan udah lima kostum. Bosan ah.. “, ujarku menggoda.

    Godaanku disambut serius oleh Sukma. Sukma dengan secepat kilat melucuti busana G string yang dari tadi menempel. Aku terperangah melihat kemolekan tubuh Sukma yang memang Sukma, hampir saja kameraku terjatuh hanya karena memelototi tubuh putih mulus di hadapanku.

    “Loh, kok bengong, ayo foto lg apa nggak!”, ujar Sukma membuyarkan imajinasiku.
    “Oo, ya. ya!”, jawabku tergagap. Pemotretan di room makin seru saja, karena Sukma adalah tipe model yang menuruti semua perintahku.

    Sehingga tanpa terasa 3 rol telah berlalu. Di saat aku mengarahkan gaya tidur Sukma, secara tidak sengaja tangan Sukma menyentuh ‘senjata pamungkas’ku yang dari tadi telah mengacung seperti anggota DPR yang melakukan interupsi.

    “Loh, apaan nih Mas! Kok keras amat “, tanya Sukma sambil memegang rudalku yang kencang sekali.

    Akupun blingsatan mendpt reaksi sensitif dari Sukma.

    “Iya nich. Aku jg nggak konsen motretnya, habisnya tubuh kamu Sukma bgt. Baru kali ini aku melihat tubuh bagus seperti ini”, rayuku. “Ah, yang bener! Aku yakin Mas sering melihat tubuh lebih Sukma daripada tubuhku, kalau Mas Bilang tubuhku Sukma, aku yakin Mas menghinaku”, katanya merajuk.
    “Aku ‘kan mesti motret dulu”, kataku sambil menelan ludah.
    “Buktinya Mas dari tadi, diem aja. Nyentuh tubuhku aja nggak, kalau memang tubuhku Sukma, dari tadi Mas kan udah menyerangku”, kata Sukma nakal.

    Tanpa dikomando lg, aku menyerang Sukma dengan ganas. Sukma pun memberikan perlawanan lebih ganas. Sukma langsung menncopoti celana dan bajuku.

    “Mas, kalau memang kepingin ngomong aja. Jangan ditahan, jadinya nggak baik Mas. Kayak gini, laharnya meleleh di celana, ‘kan cayang”, kata Sukma sambil melahap senjataku dengan lahapnya.

    Karena aku sudah horny dari siang, maka lahar panasku dengan cepat muncrat dengan kencangnya. Tanpa bisa menghindar, laharku pun ditelan Sukma.

    “Aduuh, Mas! Kok aku nelan lahar Mas sih, tapi asin-asin enak gitu”, katanya manja.

    Kemudian aku lunglai tak berdaya. Dengan sabar Sukma menyeka seluruh daerah ‘senjata pamungkas’ku. Seusai menyeka, Sukma mengocok-ngocok senjataku dengan nafsunya.

    “Horee. ‘Mas Boy kecil’ bangun.. “, sambut Sukma sambil menjilati ujung senjataku.
    “Ohh. Kamu kok pinter say.. “, ujarku dengan suara parau karena gairah seksku membara lg.

    Sedotan Sukma semakin mantap dan lahap, imajinasiku kian melayang. Tanganku kemudian menyambar gunung kembar yang dari tadi belum sempat kuremas-remas. Begitu gunung kembarnya kuremas, Sukma langsung terpancing.

    “Mas, ciumi gunungku dong”, pinta Sukma manja.

    Kemudian aku melahap dua gunung yang sangat ranum dan menantangku untuk meremas-remasnya.

    “Aakk, Mas! Aku nggak tahan nich”
    “Say, posisi 69 ya!”, pintaku.

    Aku langsung menindih tubuh Sukma sehingga membentuk 69, aku tanpa diminta langsung menciSumi gua nikmat yang akan membawaku ke sorga itu.

    “Mas, kok uennak gini sich. Aku nggak tahan nich, mau. kel. aahh. nah. kan keluar”, ujar Sukma.

    Kemudian aku membalik badan, sehingga kami saling berhadapan. Sukma langsung tersenyum dan langsung menyambar bibirku, kami pun kemudian berciuman dengan hangat.

    “Mas, aku kepengin ‘disuntik’ sama senjata Mas, kayak apa sih rasanya”, kata Sukma menggodaku.

    Senjataku, kuarahkan ke gua yang dari tadi menunggu disodok, biar laharku keluar kian deras.

    “Akk.. !!” teriak Sukma sambil mengigigit bibirnya. Sodokanku pelan-pelan kutekan semakin dlm hingga membuat mulutnya menganga dan memainkan lidahnya.

    Kemudian aku menyambar lidah Sukma, dan goyangan demi goyangan terus kutingkatkan.

    “Mas, genjot yang keras lg dong, ak. ku mau kel. uar lg”. Genjotan aku tingkatkan hingga membuat Sukma sampai ke puncak kenikmatan. “Aduuh. Akk, Mas! Aku keluar lg.. “, Sukma memang orgasme untuk kedua kalinya, sementara senjataku masing mengacung.
    “Lho, Mas belum keluar ya ”
    “Emang kamu nggak merasakannya Say ”
    “Habisnya, aku enak bgt. Jadi nggak mikirin Mas Boy”

    Tanpa diminta, Sukma langsung naik dengan posisi duduk dan mengarahkan lubang ‘gua’nya ke ‘senjata pamungkas’ku. Goyangan Sukma kian liar, ketika ia berada di atas perutku.

    Ini membuat rasa nikmatku kian memuncak dan

    “Ya. Yaa. Keluar lg deh” kata Sukma.

    Mendpt reaksi orgasme Sukma, membuatku terpancing dan membalikan tubuh Sukma sehingga posisinya di bawah. Dengan cepat aku memasukkan senjataku yang sudah memuntahkan lahar. “Mas terus, terus. Terus Mas. Yang keras.. ” Mendpt support dari Sukma membuat sodokan kian kutingkatkan.

    “Say, ak. ku keluar”, kataku dengan nada tidak karuan.
    “Aku jg Mas. Bareng ya.. ” Selesai genjot-genjotan, aku dan Sukma tidur terlelap hingga jam 6 pagi.

    Sukma tersenyum melihatku bangun.

    “Pagi Mas.. ”

    “Pagi, kok kamu bangun pagi amat ”
    “Iya, kebiasaanku bangun subuh”, jawab Sukma sambil menyedot rokok putih dlm-dlm.
    “Mas, boleh nggak aku mohon satu permintaan, sebelum kita pisah hari ini “, kata Sukma sambil tersenyum nakal.
    “Boleh! Paling kamu minta ongkos pulang ‘kan “, Kataku enteng.
    “Buk. Bukan itu!” “Lalu minta apa, kalau bukan minta uang ”
    “Minta ‘rudal’mu lg, puasin aku lg donk.. ”
    “Gimana yach.. “, godaku.
    “Gimana apanya ” kata Sukma lg-lg dengan nada manja. “Maksudku, gimana memulainya ha. ha. ha.. “, kataku sambil melirik.

    Sukma langsung mengejarku dan kami pun kejar-kejaran seperti anak kecil rebutan mainan. Aku melompat ke tempat tidur dan Sukma terus mengejarku.

    “Mas nakal deh” Kamipun kemudian berpagutan dan berciuman dengan saling serang.

    Tanganku langsung meremas-remas gunung kembarnya. Hal itu membuat Sukma semakin ketagihan dan tangan Sukma memegang tangan kananku dan menuntunnya untuk mengorek ‘gua selarong’nya yang sudah kebanjiran lahar. Jari tanganku langsung kuarahkan ke gua tsb hingga.

    “Akk, nikmat Mas. Teruskan Mas, terus ach. ach aku keluar. Mas!”, ‘kicau’ Sukma.
    “Mas, tuntaskan yuk” “Okelah”, kataku.

    Senjataku sebenarnya belum keras betul, sehingga aku malas-malasan untuk memasukannya ke ‘gua’ Sukma. Bleezz.

    “Mas, aku kepingin kenikmatan ini dari Mas Boy terus. Mau nggak ”
    “Siapa nolak” jawabku sambil terus memompa Sukma.

    Sukma menggoyangkan pantatnya dengan lincahnya hingga membuatku tidak tahan.

    “Say. aahh. aku mau. keluar. nich.. ”
    “Aku jg Mas.., aahh.. ” Akhirnya kami berdua sampai ke puncak kenikmatan ‘pamungkas’. Jam telah menujukan jam 12. 00, artinya kami harus check out.
    “Mas, kalau tabloid yang memuat fotoku sudah keluar tolong kabarin ya, entar aku kasih hadiah deh”, pintanya dengan senyum menawan.

    Dan seminggu kemudian foto Sukma muncul di tabloidku.
     

Share This Page