Agen Poker Terpercaya Agen Bola Terpercaya Japsex - Japanese Sex Cara Daftar Sbobet
   
  1. Di sini diharamkan adanya konten yang berhubungan dengan Child Pornography. Ban permanen akan diberlakukan langsung tanpa kompromi.
  2. AYo Login atau Register, dan temukan berbagai konten menarik lainnya.
    Sekarang juga sedang ada lomba lho! Mudah ikutnya, banyak hadiahnya!

Cerita Sex Menar Hati

Discussion in 'Cerita Panas' started by menyokkk, Mar 6, 2016.

  1. menyokkk

    menyokkk Calon Anak Lusuh

    Joined:
    Mar 6, 2016
    Posting:
    13
    Likes Received:
    2
    Trophy Points:
    1
    [​IMG]

    Cerita Sex Menar Hati – Dalam dunia ini mungkin aku bukan siapa-siapa. Bukan seorang selebritis, bukan pula seorang gadis yang bisa menempatkan diriku di antara kerumunan cowok-cowok di lorong kampus. Terkadang dalam hati kecilku tersirat rasa ingin demikian, ingin dikagumi, ingin dilihat dengan pandangan iri. Tapi semua keinginan itu tingal impian saat kulihat gadis pendek berkaca mata di depan cermin.

    “Ah, Mia. Kamu bukan siapa siapa kamu hanyalah gadis biasa,” demikian selalu kata hatiku berhasil menyeretku kembali ke alam sadar.

    Demikian juga yang terjadi di hari Senin yang aneh itu.

    “Mia, kamu ngga ke kantin?” tanya Febrita sahabatku.

    Kugelengkan kepalaku sambil tersenyum.

    “Ngga ah, aku mau ke ruang baca saja.”
    “Kamu selalu begitu, menjauhi keramaian,” kudengar sahabatku mengomel.
    “Masa?” tawaku kecil.
    “Kan enak sepi-sepi.”
    “Hiiiii,” balasnya dengan mengerutkan wajah. Sesaat kemudian kami tertawa bersamaan.
    “Ya sudah deh,” ucap Febrita kemudian,
    “nanti sebelum pulang kamu hampiri aku di kantin, okay?”

    Kuanggukkan kepalaku dan melangkah menuju ruang baca.

    “Mia?” mendadak sesorang menyapaku.

    Kutolehkan kepalaku dan tidak melihat siapapun kecuali segerombolan pemuda yang asyik merokok di depan majalah dinding. Dengan heran kulangkahkan lagi kakiku.

    “Mia kan?”

    Kutolehkan lagi kepalaku dan nyaris melompat mudur saat seorang pemuda bertubuh jangkung sudah berdiri di belakangku. Pemuda itu tertawa melihatku menyeret langkah mundur,

    “Hey, kok jadi panik begitu.”

    Kupalingkan wajahku ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari senyuman licik yang mengembang dari mulut seseorang. Ternyata tidak ada.

    “Kamu nyariin apa? Aku disini, loh,” ucap pemuda itu lagi setelah ikut menolehkan kepalanya ke sana dan kemari. Kutatap pemuda itu dengan pandangan curiga,
    “Kamu siapa?”
    “Aku Natan, kakak kelas kamu. Ingat? Yang nyuruh kamu naik sepeda keliling kampus waktu ploncoan?” Sekejap kemudian kenangan pahit itu terlintas

    kembali di benakku, saat beberapa kakak tingkat menyuruhku naik sepeda, sesuatu yang sangat kubenci, berkeliling kampus dengan kalung bawang di leherku.

    Sumber
     

Share This Page